Hujan turun dengan irama tak tertata,
Menyentuh bumi dengan kasih yang tak berdaya,
Tetesannya jatuh, satu demi satu,
Seperti bisikan rindu dari waktu yang lalu.
Di atas atap, ia bermain melodi,
Nada-nada lembut membasuh memori,
Aku duduk di tepi jendela,
Menikmati hujan menyapa semesta.
Di setiap tetesnya, ada cerita,
Tentang Cinta, tentang luka dan asa,
Hujan mengajarkanku untuk tak menyerah,
Meski badai datang, semua takkan musnah.
Gemuruhnya adalah nada keberanian,
Menantang dunia dengan semangat tak berkesudahan,
Di bawah langit kelabu yang basah,
Ada harapan yang terus tumbuh, tak pernah lelah.
Dan saat hujan akhirnya reda,
Aku tahu ia meninggalkan jejak rasa,
Seolah berkata : "Aku kembali",
Dengan melodi yang lebih indah di lain hari.
Furqon Efendi
