Purnama bersinar di ujung malam,
Seperti lentera yang menggantung di alam,
Bintang-bintang menari mengelilinginya,
Menyanyikan lagu cinta tanpa suara.
Aku berdiri di tengah sunyi,
Memandang bulan dengan hati yang letih,
Ia mengajakku merenung dalam diam,
Tentang hidup yang terus berjalan tanpa salam.
Dalam sinarnya yang redup namun hangat,
Aku menemukan kenyamanan yang erat,
Purnama adalah saksi bisu,
Dari jiwa-jiwa yang terbelenggu.
Ia mengingatkanku pada malam-malam lalu,
Saat aku tersesat, mencari arah baru,
Namun bulan tak pernah hilang,
Ia setia menyinari langit yang kelam.
Dan saat purnama akhirnya pudar,
Aku tahu ia membawa pesan yang benar,
Bahwa terang akan selalu kembali,
Menghidupkan jiwa yang hampir mati.
FURQON EFENDI
